Kriteria Pemimpin dalam Perspektif Islam

Kehidupan dunia tidak terlepas dengan yang namanya Pemimpin sehingga  setiap individu adalah pemimpin baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain dalam sebuah atau beberapa komunitas. Terkait hal ini, Rasul saw. pernah bersabda:

Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di pimpinnya, Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan bertanggung jawab atas mereka, seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atasnya. Seorang hamba sahaya adalah penjaga harga tuannya dan dia bertanggung jawab atasnya.” (HR Bukhari)

Hadits di atas memberi gambaran bahwa pemimpin memiliki tugas dan tanggung jawab yang tidak gampang. Oleh karena itu seorang pemimpin mestinya sadar terhadap kewajibannya sebagai pemimpin terlebih dia dalam kapasitas sebagai seorang muslim.

Sebagai jawaban atas tuntutan di atas, mari kita lihat beberapa kriteria dan kewajiban seorang pemimpin berikut.

1. Menggunakan Hukum Allah

Dalam berbagai aspek dan lingkup kepemimpinan, seorang pemimpin mestinya senantiasa menggunakan hukum yang telah di tetapkan Allah SWT, hal ini sebagaimana ayat firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (Qs : 4:59).

Ayat di atas menjelaskan bahwa ta’at kepada pemimpin adalah satu hal yang wajib dipenuhi, tetapi dengan catatan, para pemimpin yang dita’ati, harus menggunakan hukum Allah, hal ini sebagaimana firman-Nya yang lain :

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)”. (Qs: 7 :3)

Dan dalam beberapa ayat yang lain Allah SWT berfirman:
“..Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir…” (Qs :5:44).
“..Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim…” (Qs: 5 45).
“..Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik..” (Qs: 5 :47).
” Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”. (Qs : 5 :50)

Untuk menghidari terjadinya pelanggaran terhadap ketentuan-Nya ini (yakni: agar tidak munculnya pemimpin yang tidak menggunakan hukum Allah), dalam sebuah ayat Allah memerintahkan umat Islam untuk tidak memilih pemimpin dari kalangan non-Muslim. Terkait hal ini, Allah SWT berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (Qs : 5 : 51)

Dari beberapa ayat diatas dapat disimpulkan bahwa pemimpin dalam Islam adalah mereka yang senantiasa mengambil dan menempatkan hukum Allah dalam seluruh aspek kepemimpinannya.

2. Tidak meminta jabatan, atau menginginkan jabatan tertentu..

Dalam suatu kesempatan, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada seseorang yang memintanya, tidak pula kepada orang yang sangat berambisi untuk mendapatkannya” (HR. Muslim).

Dan sabda beliau:
“Sesungguhnya engkau ini lemah (ketika abu dzar meminta jabatan dijawab demikian oleh Rasulullah), sementara jabatan adalah amanah, di hari kiamat dia akan mendatangkan penyesalan dan kerugian, kecuali bagi mereka yang menunaikannya dengan baik dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban atas dirinya”. (HR Muslim).

Kecuali, jika tidak ada lagi kandidat yang lain dan tugas kepemimpinan akan jatuh pada orang yang tidak amanah dan akan lebih banyak membawa modhorot daripada manfaat, hal ini sebagaimana firman Allah ;

“Jadikanlah aku bendaharawan negeri (mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan”. (Qs : Yusuf :55)

Dengan catatan bahwa amanah kepemimpinan dilakukan dengan ;

  1. Ikhlas.
  2. Amanah.
  3. Memiliki keunggulan dari para kompetitor lainnya.
  4. Menyebabkan terjadinya bencana jika dibiarkan jabatan itu diserahkan kepada orang lain.
3. Kuat dan amanah
Kita tau bahwa pemimpin memiliki tugas, tanggung jawab, dan kewajban yang tidak sedikit, untuk itu dibutuhkan pribadi yang kuat untuk menjabat sebagai pemimpin agar tidak mudah menyerah dengan segala bentuk halangan yang dia hadapi selama ia menjabat. Allah SWT pernah bersabda:
“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (Qs : 28: 26).

4. Profesional
Kriteria keempat ini merupakan modal dasar dalam mewujudkan program kepemimpinan seorang pemimpin agar kepemimpinannya dapat memberi warna baru dan cerah bagi peningkatan kemakmuran kehidupan masyarakat. Rasul pernah bersabda:
“Sesungguhnya Allah sangat senang pada pekerjaan salah seorang di antara kalian jika dilakukan dengan profesional” (HR : Baihaqi)

5. Tidak Melakukan Praktik KKN

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang menempatkan seseorang karena hubungan kerabat, sedangkan masih ada orang yang lebih Allah ridhoi, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin”. (HR Al Hakim).

Umar bin Khatab juga pernah berkata:

“Siapa yang menempatkan seseorang pada jabatan tertentu, karena rasa cinta atau karena hubungan kekerabatan, dia melakukannya hanya atas pertimbangan itu, maka seseungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin”.

6. Menempatkan orang yang paling cocok

Ini adalah tugas pemimpin terpilih dalam suatu komunitas agar dalam menentukan jabatan bawahannya disesuaikan dengan kapasitas dan keahiannya. Sebagaimana hadits berikut:
“Rasulullah menjawab; jika sebuah perkara telah diberikan kepada orang yang tidak semestinya (bukan ahlinya), maka tunggulah kiamat (kehancurannya)”. (HR Bukhari).
Dalam konteks hadits ini, setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita cermati:

1. Seorang pemimpin harus bisa melihat potensi  seseorang.
Setiap manusia tentunya diberikan kelebihan dan  kekurangan.Kesalahan terbesar bagi seorang pemimpin  adalah ketika dirinya tidak bisa melihat potensi seseorang dan menempatkannya pada tempat yang  semestinya. Begitu pentingnya perhatian bagi seorang pemimpin terhadap hal ini, maka Rasulullah saw bersabda sebagaiman hadits pada poin 5 di atas.

Ketidakmampuan pemimpin dalam hal ini hanya akan membuat jama’ah atau organisasi yang di pimpinnya  menjadi tidak efektif dan efisien, bahkan tidak sedikit kesalahan pemimpin dalam hal ini menimbulkan kekacauan yang membawa kepada kehancuran.

2. Bisa mengasah potensi seseorang.
Selain ia bisa melihat potensi pada diri seseorang, seorang pemimpin dengan caranya yang paling baik, ia  bisa mengasah potensi mereka yang berada dalam  kepemimpinannya. Mengasah potensi seseorang berbeda dengan “memaksa” seseorang untuk menjadi seseorang yang tidak di inginkannya.

3. Menempatkan seseorang sesuai dengan potensi yang ia  miliki.
“Right man in the right place”, adalah ungkapan yang  seringkali kita dengar. Bahwa menempatkan seseorang  itu harus berada pada tempat yang paling tepat bagi orang tersebut serta penugasannya.

4. Mengatur setiap potensi dari mereka yang di pimpinnya menjadi satu kekuatan yang kokoh.
Bangunan yang baik, kokoh dan indah tentunya tidak hanya terdiri dari satu elemen, tetapi terdiri dari berbagai elemen yang ada di dalamnya. Tentunya, penempatan dan penggunaan masing-masing elemen itulah yang sangat mempengaruhi bagaimana sebuah bangunan itu.  Perumpamaan sederhana ini bisa kita gunakan untuk memahami tugas seorang pemimpin dalam menempatkan, menggunakan mereka yang berada dalam kepemimpinannya.

Wallahu a’lam.
[****]
Tulisan ini dipublikasikan di Islam. Tandai permalink.

Beri Komentar Tulisan Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s